Selasa, 17 Januari 2017

FAIDAH HADITS BARIRAH

Faidah Dari Hadits Barirah
Hadits ini mengisahkan tentang Barirah, seorang budak wanita yang meminta bantuan kepada ‘Aisyah Radhiallahu’anha agar membebaskan ia dari tuannya. Diriwayatkan dari Ummul Mu’minin, ‘Aisyah Radhiallahu’anha, beliau berkata:
جاءتني بريرةُ فقالت : كاتبتُ أهلي على تِسْعِ أَواقٍ، في كلِّ عامٍ أُوقِيَةٌ، فأعينيني، فقالت : إن أَحَبُّوا أن أَعُدَّها لهم ويكونُ ولاؤُكِ لي فعلتُ، فذهبت بريرةُ إلى أهلِها، فقالت لهم فأبَوْا عليها، فجاءت من عندِهم ورسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم جالسٌ، فقالت : إني قد عَرَضْتُ ذلك عليهم فأبَوْا إلا أن يكونَ الولاءُ لهم، فسَمِع النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم، فأَخْبَرَت عائشةُ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم، فقال : ( خُذِيها واشتَرِطِي لهم الولاءَ، فإنما الولاءُ على من أَعْتَق ) . ففعلت عائشةُ، ثم قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في الناسِ، فحَمِدَ اللهَ وأَثْنَى عليه، ثم قال : ( ما بالُ رجالٍ يشتَرِطون شروطًا ليست في كتابِ اللهِ، ما كان من شَرْطٍ ليس في كتابِ اللهِ فهو باطلٌ، وإن كان مِائةَ شَرْطٍ، قضاءُ اللهِ أَحَقُّ، وشَرْطُ اللهِ أَوْثَقُ، وإنما الولاءُ لِمَن أَعتَق )
“Barirah datang kepadaku lalu berkata: “Sesungguhnya saya melakukan mukatabah terhadap majikanku dengan sembilan uqiyah, per-tahunnya saya membayar satu uqiyah, maka bantulah saya”. ‘Aisyah berkata : “Kalau memang majikanmu berkenan, saya akan menyiapkan dananya, dengan syarat wala‘-mu nanti menjadi milik, maka aku akan melakukannya”. Maka Barirah pergi kepada majikannya, dan menyampaikan syarat yang diminta ‘Aisyah namun mereka tidak menyetujuinya. Kemudian Barirah datang lagi kepada ‘Aisyah ketika itu Rasulullah sedang duduk. Barirah berkata: “Saya telah menawarkan tawaran tadi kepada mereka, namun mereka enggan, kecuali wala‘-nya untuk mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam mendengarnya, dan Aisyah menceritakan duduk perkaranya kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bersabda: “Ambilah ia (Barirah) dan persyaratkan wala sebagaimana yang engkau syaratkan, karena wala’ itu bagi orang yang membebaskan budak“. Kemudian ‘Aisyah melakukannya (pergi ke rumah majikan Barirah).
Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah di hadapan orang-orang, beliau memuji Allah dan memuliakan-Nya, kemudian bersabda: “mengapa sebagian orang lancang mempersyaratkan syarat yang tidak ada dalam Kitabullah. Setiap syarat yang tidak ada dalam Kitabullah, ia adalah syarat yang batil, walaupun itu 100 syarat. Keputusan Allah itu lebih benar. Dan syarat dari Allah itu lebih kuat. Dan sesungguhnya wala’ itu bagi orang yang membebaskan budak” (HR. Bukhari dan Muslim).
Faidah hadits
Wala yang dimaksud dalam hadits ini adalah harta warisan yang ditinggalkan seorang budak. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menetapkan wala itu menjadi milik orang yang membebaskan budak
Hukum asal syarat dalam muamalah adalah boleh, selama tidak melanggar syariat. Berdasarkan hadits:
والمسلمونَ على شروطِهمْ إلَّا شرطًا حرَّمَ حلالَا أوْ أحلَّ حرامًا
“Kaum Muslimin wajib memenuhi apa yang mereka persyaratkan, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram” (HR. Tirmidzi no. 1352, ia berkata: “hasan shahih”)
Adapun yang disebutkan dalam hadits “Setiap syarat yang tidak ada dalam Kitabullah” artinya syarat yang bertentangan dengan hukum Allah. Setiap syarat yang bertentangan dengan hukum Allah, maka ia adalah syarat yang batil (tidak sah). Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi mengatakan: “yang dimaksud Kitabullah di sini adalah hukum Allah. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam kisah Ar Rabi: ‘Kitabullah adalah qishash‘ (HR. Bukhari-Muslim), maksudnya yaitu hukum Allah dan bukan Al Qur’an” (Al Ifham fi Syarh Bulughil Maram, 2/10).
Syarat yang melanggar syariat menjadi batal, tidak boleh dipenuhi.
Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya pembayaran secara kredit. Karena Barirah melakukan mukatabah dengan majikannya. Mukatabah adalah transaksi antara budak dan majikannya agar sang budak bisa bebas dengan membeli dirinya sendiri dengan cara diangsur Dan mukatabah itu merupakan bentuk transaksi kredit. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendiamkan hal itu dan tidak melarangnya.
Bolehnya membayar mukatabah sekali bayar, demikian juga boleh membayar transaksi kredit secara umum sekali bayar langsung lunas.
Keutamaan membebaskan budak.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “mengapa sebagian orang lancang mempersyaratkan syarat yang tidak ada dalam Kitabullah..“. Mencerminkan cara memberi nasehat kepada seseorang dengan baik, yaitu dengan tidak tunjuk hidung atau tidak menyebutkan namanya di depan orang banyak.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Keputusan Allah itu lebih benar. Dan syarat dari Allah itu lebih kuat“. Maka semua aturan dan ketentuan yang dibuat manusia, semuanya putus dan gugur ketika sudah ada hukum Allah.
Dalam hadits ini ada keutamaan Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha, kecerdasan dan kefaqihan beliau.
Dianjurkan membaca puji-pujian kepada Allah sebelum berbicara di depan orang banyak.
***
Rujukan utama: Al Ifham fi Syarh Bulughil Maram, karya Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi
Penulis: Yulian Purnama

Sabtu, 14 Januari 2017

TAUHID KEBAHAGIAAN HATI 1


TIDAK ADA KEBAHAGIAN, KELEZATAN, KENIKMATAN DAN KEBAIKAN HATI KECUALI DENGAN MENTAUHIDKAN ALLAH.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"أتدرى ما حق الله على عباده؟
Tahukah engkau haq Allah atas hambanya?
قلت: الله ورسوله أعلم،
Aku (Muadz) berkata, "Allah dan rasulnya lebih tahu"
قال: حقه على عباده أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا. أتدرى ما حق العباد على الله إذا فعلوا ذلك؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال: حقهم عليه أن لا يعذبهم بالنار"،
Nabi Bersabda, "haq Allah atas hambanya adalah agar mereka hanya menyembahnya dan tidak berbuat syirik kepadanya sedikitpun"
Dan Nabi berkata, "apakah kamu tahu haq Allah atas hambanya jika mereka telah melakukan itu(bertauhid dan menjauhi syirik)?
Aku(muadz) berkata, "Allah dan rasulnya lebih tahu"
Nabi Bersabda, "Haq mereka atas Allah adalah agar Allah tidak menyiksa mereka diNeraka".
(Muttaffaq 'Alaihi)
Ibnu Qoyyim رحمه الله تعالىberkata:
ولذلك يحب سبحانه عباده المؤمنين الموحدين ويفرح بتوبتهم، كما أن فى ذلك أعظم لذة العبد وسعادته ونعيمه، فليس فى الكائنات شىء غير الله سبحانه يسكن القلب إليه، ويطمئن به ويأنس به، ويتنعم بالتوجه إليه، ومن عبد غيره سبحانه وحصل له به نوع منفعة ولذة، فمضرته بذلك أضعاف أضعاف منفعته، وهو بمنزلة أكل الطعام المسموم اللذيذ، وكما أن السماوات والأرض لو كان فيهما آلهة غيره سبحانه لفسدتا، كما قال تعالى:
Oleh karena itu Allah سبحانه mencintai hamba-hambanya yang beriman dan yang bertauhid dan Allah senang dengan Taubat mereka, sebagaimana pada hal tersebut(kecintaan Allah) merupakan kelezatan, kebahagiaan dan kenikmatan yang paling besar bagi seorang hamba.
tidak ada satupun di Alam semesta ini selain Allah سبحانه yang bisa menentramkan hatinya(hamba), dan menjadi tenang dan senang(hati) dengannya dan menjadi nikmat(hati) dengan bertawajjuh(mengarahkan/bersandar) kepadanya,
Dan barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah meskipun dia mendapat satu macam kenikmatan dan kelezatan maka mudhorotnya lebih berlipat-lipat dari manfaatnya, yaitu seperti (seseorang) yang memakan makanan enak yang beracun.
Dan sebagaimana langit dan bumi jika pada keduanya ada beberapa tuhan selain Allah niscaya keduanya akan hancur, sebagaimana firman Allah تعالى:
{لَوْ كانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إلا الله لَفَسَدَتَا}
" Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu benar-benar rusak".
[Surat Al-Anbiyaa:  22] .
فكذلك القلب إذا كان فيه معبود غير الله تعالى فسد فسادا لا يرجى صلاحه إلا بأن يخرج ذلك المعبود من قلبه، ويكون الله تعالى وحده إلهه ومعبوده الذى يحبه ويرجوه، ويخافه ويتوكل عليه وينيب إليه.
"Maka demikian juga hati jika padanya ada penghambaan selain Allah تعالى niscaya akan rusak(hati itu) dengan kerusakan yang sulit diharapkan kebaikannya kecuali dengan mengeluarkan penghambaan itu dari(hati)nya dan menjadikan Allah sajalah satu-satunya sembahannya, peribadatannya yang ia cintai dan ia harapkan dan yang ia takuti dan ia bertawakkal kepadanya dan kembali kepadanya"
(Ighotsatullahfan/bab 6/ibnu qoyyim)

Kamis, 12 Januari 2017

SHALAT SUNNAH SAFAR??

SHALAT SUNNAH SAFAR??
Sebagian Ulama seperti imam AnNawawi رحمه الله تعالى menyunahkan untuk shalat sunnah safar ini, berdasarkan riwayat dari Muth'im bin Miqdam berkata: bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا خَلَفَ عَبْدٌ عَلَى أَهْلِهِ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُمَا عِنْدَهُمْ حِينَ يُرِيدُ سَفَرًا
"Tidak ada yang lebih mulia dari sesuatu yang  ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya dari dua rakaat yang dia lakukan disisi mereka ketika ia hendak safar"
(HR.Ibnu Abi Syaibah didalam "AlMushonnaf, No.4912)
Namun hadits ini dan yang semaknanya dihukumi lemah oleh para ulama hadits.
Seperti Ibnu Muflih mengatakan "sanadnya terputus"(Al-Furu', 2/408)
Dan juga dilemahkan oleh AlHafidz Al-Iraqi(Takhrij Al-ihyaa, 5/129)
Dan juga dilemahkan oleh Syaikh AlBaani.
Namun disana terdapat dalil shahih yang menunjukkan sunnahnya shalat 2 rakaat ketika keluar rumah, baik dalam rangka safar atau tidak safar.
Berdasarkan sabda Nabi   صلى الله عليه وسلم:
 
" إذا خرجت مِن مَنْزِلك فَصَلّ ركعتين يمنعانك مِن مخرج السوء ، و إذا دخلت إلى مَنْزِلك فَصَلّ ركعتين يمنعانك مِن مدخل السوء " .
"Jika kamu (hendak) keluar dari rumahnya maka shalatlah 2 rakaat (sehinggga) 2 rakaat itu mencegahmu dari tempat keluar yang buruk dan jika engkau telah masuk kedalam rumahmu maka shalatlah 2 rakaat (sehingga) 2 rakaat itu mencegahmu dari tempat masuk yang buruk"
(HR.Baihaqi dalam Syuab Al-iman dan Al-Bazaar)

Hadits ini dihasankan oleh ibnu Hajar dan diShahihkan Syaikh AlBaani.
Dan juga dikuatkan dengan perintah untuk melakukan shalat sunnah dirumah
اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
(Jadikanlah shalat kalian (selain shalat wajib) dirumah-rumah kalian dan jangan jadikan rumah-rumah kalian kuburan"
(Muttafaq 'Alaihi)
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ، فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا
"Jika seseorang dari kalian telah menyelesaikan shalat(wajib) dimasjidnya maka jadikanlah dirumahnya bagian dari shalatnya(sunnah) , maka sesungguhnya Allah akan menjadikan shalat(sunnah)nya dirumahnya sebagai kebaikan"
(HR.Muslim)
Kesimpulannya:
Disunnahkan untuk shalat sunnah dua rakaat setiap keluar atau masuk kerumah baik untuk safar atau selainnya.
والله تعالى أعلم
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=236910

Selasa, 10 Januari 2017

TIDAK NAJISNYA BANGKAI YANG TIDAK MEMILIKI DARAH

BANGKAI BINATANG YANG TIDAK MEMILIKI DARAH ADALAH TIDAK NAJIS
Berkata Syaikh Solih Utsaimin رحمه الله تعالى:
فإن ما ليس له دم ليس بنجس ولو كان ميتة ولهذا أمر النبي صلى الله عليه وسلم إذا وقع الذباب في الشراب أن يغمس
والشراب إذا كان حارا فلا بد أن يموت الذباب ولو كان ينجس الشراب ما أمر النبي صلى الله عليه وسلم بغمسه
"Maka sesungguhnya segala yang tidak memiliki darah, tidaklah najis meskipun dia adalah bangkai.
Oleh karena ini Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan untuk mencelupkan lalat jika jatuh kedalam minuman, dan jikalau minuman itu panas, sudah pasti lalat itu mati.
Jika seandainya lalat itu membuat najis minuman itu niscaya nabi  صلى الله عليه وسلم tidak akan memerintahkan untuk mencelupkannya.
(Syarh Manzhumah AlQowaa'id AlFiqhiyah)

Rabu, 04 Januari 2017

QOLBUN SALIM

Ibnu Qoyyim Al Jauzi رحمه الله تعالى berkata:
فالقلب السليم
"Qolbu salim(hati yang selamat).
هو الذي سلم من أن يكون لغير الله فيه شرك بوجه ما
Adalah hati yang selamat dari  kesyirikan kepada selain Allah dalam bentuk apapun.
بل قد خلصت عبوديته لله:  إرادة ومحبة و توكلا وإنابة وإخباطا وخشية ورجاء
bahkan murni peribadatnya hanya untuk Allah Ta'alaa : keinginannya, kecintaannya, Tawakkalnya, Inaabahnya, merendah dirinya, khusyu'nya dan harapannya.
وخلص عمله لله، فإن أحب أحب لله وإن أعطى أعطى لله وإن منع منع لله
Dan juga murni amalnya hanya untuk Allah, jika dia mencintai maka dia cinta karena Allah, jika dia membenci, maka benci karena Allah, jika dia memberi maka memberi karena Allah dan jika dia enggan memberi maka enggannya karena Allah.
ولا يكفيه هذا حتى يسلم من الانقياد والتحكيم لكل من عدا رسوله صلى الله عليه وسلم
Dan tidaklah hal ini memenuhinya sehingga dia selamat dari ketundukkan dan berhukum kepada siapapun selain Rasulullah صلى الله عليه  وسلم,
فيعقد قلبه عقدا محكما على الائتمام والاقتداء به وحده، دون كل أحد في الأقوال والأفعال.
sehingga terikat hatinya dengan ikatan yang kuat untuk mengikuti dan meneladani kepada dia(Rasulullah صلى الله عليه وسلم) saja.
bukan kepada siapapun, baik segala perkataan dan perbuatan...
فيكون الحاكم عليه في ذلك كله هو ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم
Maka yang menjadi hakim atasnya pada semua perkara(hati, lisan dan anggota badan) baik yang halus dan yang besarnya adalah apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
فلا يتقدم بين يديه بعقيدة ولا قول ولا عمل
maka dia tidak mendahulukan dihadapannya (Nabi) dengan satu aqidah dan tidak pula satu ucapan dan tidak pula satu amalan pun.
كما قال تعالى
sebagaimana Allah Ta'alaa berfirman:
ِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ
"Wahai orang-orang beriman janganlah kalian mendahului(menetapkan hukum dari selain) Allah dan Rasulnya...
[Surat Al-Hujurat 1]
أي لا تقولو حتى يقول،  ولا تفعلو حتى يأمر
Maksudnya, janganlah kalian mengatakan sampai dia(Nabi SAW) mengatakan dan janganlah kalian berbuat sampai dia(Nabi SAW) memerintahkan,
قال بعض السلف
Dan sebagian salaf berkata:
ما من فعلة-وإن صغرت- إلا ينشر لها ديوانان:
"Tidak lah sebuah perbuatan-meskipun perkara kecil- melainkan akan ditebarkan dua pertanyaan:
لم؟ وكيف؟
Untuk siapa? Dan bagaimana?
أي لما فعلت؟ وكيف فعلت؟
Maksudnya untuk siapa kamu beramal? Dan bagaimana kamu beramal?
فالأول سؤال عن علة الفعل وباعثه....
Pertanyaan pertama tentang alasan beramal dan pendorongnya...
والثاني:  سؤل عن متابعة الرسول صلى الله عليه وسلم في ذلك التعبد
Pertanyaan yang kedua tentang mengikuti Rasulullah SAW dalam perkara ibadah itu,
أي هل كان ذلك العمل مما شرعته لك على لساني رسولي أم كان عملا لم أشرعه ولم أرضه؟؟
maksudnya, apakah amal itu dari amal yang aku syariatkan kepadamu melalui lisan rasulku atau amal itu amal yang aku tidak syariatkan dan aku tidak ridhoi?
فالأول سؤال عن الإخلاص والثاني عن المتابعة فإن الله سبحانه لا يقبل عملا إلا بهما
Maka pertanyaan pertama tentang keikhlasan dan yang kedua tentang Mutaba'ah(mencontoh ajaran Nabi SAW),
Maka sesungguhnya Allah سبحانه tidak akan menerima amal ibadah kecuali dengan keduanya(ikhlas dan mencontoh Nabi SAW).
(Ighotsatullahfan min MashoyidisSyaithon/ Ibnu Qoyyim, Hal.11-12/Cetakan Darul Hadits)

Senin, 02 Januari 2017

HARAMNYA PERKARA MUBAH


Syaikh As Sa'di رحمه الله تعالى berkata,
أن كل مباح توصل به إلى ترك الواجب أو فعل محرم فهو محرم.
Segala perkara mubah yang menyebabkan dengannya kepada meninggalkan perkara wajib atau mengerjakan perkara yang haram maka (perkara mubah) itu menjadi haram"
(Dalilnya)
قال تعالى
Allah تعالى berfirman,
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ)
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui".
[Surat Al-Jumu'ah 9]

فيحرم بيع والشراء بعد نداء الجمعة الثاني
"Maka haram jual beli, setelah azan jum'at yang ke dua"

(Al Qowa'id wal Ushul Al Jami'atu wal Furuuq/As Sa'di)

Minggu, 01 Januari 2017

SYARAT SEORANG PEREMPUAN KETIKA AQAD


Berkata Syaikh Sholih Utsaimin رحمه الله تعالى:
امرأة اشترطت لنفسها على المتقدم لها أنه لو تزوج عليها فهي طالقـ، فهل تطلق بمجرد عقده الثانية أو لها الخيار؟
"Jika seseorang perempuan mensyaratkan kepada orang yang ingin menikahinya untuk dirinya, bahwa jika seandainya dia (suami) menikah lagi setelahnya maka dia tertholaq,
Maka apakah dia(istri yang mensyaratkan) tertolak hanya karena (suami) mengadakan aqad(nikah) lagi dengan yang kedua atau sang istri(pertama) diberi pilihan?
والجواب أن نقول:  أنه على حسب الشرط الذي حصل ، فإذا قالت:  إن تزوجت فأنا طالق.
قال نعم، واتفقا على هذا ثم عقد عليها وشرط هذا لها فتزوج فإنها تطلق ،
ولكن لو قالت فلي الفسخ فهو أحسن حتى يصير الأمر بيدها.
Maka jawabannya kita katakan:  maka hal itu tergantung dari pensyaratan yang telah terjadi, jika si (wanita) mengatakan, "jika engkau menikah lagi maka aku tertalaq" dan si laki-laki mengatakan, "ya/ok",  dan keduanya telah sepakat atas hal ini kemudian dia meng Aqadnya(menikahinya) serta menerima syarat ini, namun dia menikah(lagi dengan yang lain) maka sang wanita itu terthalaq,
Akan tetapi seandainya dia(wanita) mengatakan:"(jika engkau menikah lagi) maka aku boleh menfaskakh(membatalkan) pernikahan ini".
Maka hal ini lebih baik sehingga perkara bisa kembali lagi ketanganya(si wanita bisa menimbang-nimbang kembali)".
(Syarah Mandzumah Ushulilfiqh wa qowaa'iduhu/340)